Masihkah kita perlu bertanya, mengapa harus Palestina?


Nov, 19, 2012’18.00 AM
for everyone

Sudah dua pekan Israel menyerang Gaza.  Puluhan jet tempur meliuk-liuk di udara. Di darat, armada tank tempur Israel merangsek masuk ke pemukiman warga. Langit malam terang oleh semburat api roket dan mortir. Bau mesiu merambat ke tiap sudut rumah.
Sekumpulan pemuda di kejauhan sana berlarian menggotong seonggok jasad yang tak bernyawa. Dari tempat yang sama, seorang pemuda terseok-seok jalannya akibat peluru yang bersarang di kaki kanannya. Kemudian  pada hari Sabtu (17/11/2012)di televisi terlihat lagi seorang ibu yang menangis karena kematian anaknya,  Terlihat lagi tayangan seorang anak laki- laki menangis dibalik reruntuhan rumahnya.  Terlihat tayangan yang lain di hari yang sama, mereka duduk bersimpuh, dan menadahkan tangan ke langit dengan mata sayu.  Dan pada bakda magrib  tgl 19 November 2012 hati ini teriris-iris, tak terasa air mata ini bercucuran tak terhenti ketika terlihat tayangan salah satu stasiun TV, sekerumunan  masyarakat Gaza mengangkat seorang balita yang sudah tidak bernyawa dari reruntuhan bangunan, karena serangan roket Israil ke Gaza pada Senin (19/11/29012) dini hari waktu setempat.  Dari hati kecil ini terucap….. “Berapa lagi yang harus mati, ya Robb”’

Sejenak aku berfikir, betapa biadapnya nilai-nilai kehidupan dan agama terjajah oleh Zionis Israel. Sudah sangat jelas, mereka mengambil bagian demi bagian, menyiksa, menyandera, membunuh tanpa kenal usia atau jenis kelamin. Siapa pun mampu melihat apa yang terjadi sejak berpuluh tahun lalu, kejahatan-kejahatan Israel yang terus-menerus, membuat hati ini akan bergerak untuk meraih tangan-tangan tak berdosa itu.

Sementara dilihat dari sisi agama Islam, begitu banyak keutamaan-keutamaan yang harus kita perjuangkan di negeri yang diwakafkan untuk umat Islam ini. Ada Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam, salah satu masjid yang diberkahi setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan tempat Rasulullah ‘transit’ dalam perjalanan Isra’ Mi’raj-nya, serta masih banyak lagi.

Masihkah kemudian kita bertanya? Karena dengan segala perasaan lemah kita sebagai bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan bencana, carut marut masalah korupsi yang tak jelas ujung pangkalnya, berkurangnya satu demi satu pulau, kemiskinan yang menjadi pemandangan sehari-hari dan banyak lagi.

Tapi, sadarkah kita, keadaan kita masih lebih baik dengan mereka di sana.

Kemudian, akan membuat diri kita malu ketika kita mengetahui beberapa fakta tentang sikap bangsa Palestina kepada bangsa Indonesia.

Ada beberapa contoh yang akan membuat kita tertegun.

Ketika Padang mengalami gempa,  Palestina mengirimkan bantuan dan juga dokter-dokter. Saat terjadi gempa di Jawa Tengah dan sekitarnya, rakyat Gaza memberikan sumbangan. Saat letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya serta Tsunami di Mentawai, rakyat Palestina menyumbang masing-masing $2.000 ke dua tempat tersebut.

Negara Palestina yang sedemikian kesusahannya di bawah penjajahan Zions Israel, tetapi masih peduli untuk membantu kita. Lalu, kenapa kita yang tidak di bawah jajahan siapa pun saat ini, membantu mereka. Kita yang berjalan dengan aman dan nyaman mendukung mereka yang saat ini hidupnya di bawah desingan peluru dan bom. Bukankah kita semua bersaudara? Bukankah kita menentang segala bentuk penjajahan?

“Sudah semestinya tak lupakan doa untuk mereka  dan sisihkan sebagian dana. Sekecil apapun untuk disumbang kepada mujahidin Palestina.    Mari sama-sama kita gerakan hati terus untuk mereka …. “Allahummanshur ikhwana al-mujahidiina fii Filistin (Ya Allah tolonglah saudara kami mujahidin di Palestina).”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s